Workshop Kurasi Sastra Cerita Rakyat 7 Suku Dimulai, Wabup Joko : Karya ini Menjadi Bahan Bacaan Bermutu

Wabup Joko Lingara membuka secara resmi kegiatan workshop Kurasi dan penyuntingan Naska Sastra Lisan Cerota rakyat 7 Suku Teluk Bintuni. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.co – Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang telah menginisiasi kegiatan Wordkshop Kurasi dan Penyuntingan Naskah Sastra Lisan cerita rakyat 7 Suku Teluk Bintuni.
Menurutnya, pelestarian naskah kuno, pendokumentasian sejarah lokal, serta pengembangan literasi berbasis kearifan lokal merupakan hal penting bagi Kabupaten Teluk Bintuni.
Menurut, wabup Joko kekayaan budaya, mitos, legenda, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra lisan dari tujuh suku di bumi Sisar Matiti ini merupakan identitas serta jati diri yang amat berharga, ujar Joko Lingara.
Ia menilai, tradisi lisan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi perlu segera didokumentasikan agar dapat terus dipelajari dan dikenal oleh generasi mendatang.
Jika sastra lisan ini tidak segera di gali, tulis, kurasi, dan dibukukan dengan standar kualitas yang baik, maka ia terancam punah ditelan zaman, ujar Wabul Joko.

Suasana dalam ruangan workshop dan peserta antusias menerima paparan dari Wabup Joko Lingara. (Foto/Susi)
Karena itu, Joko Lingara meminta para peserta yang mewakili tujuh suku agar mengikuti seluruh rangkaian workshop dengan serius. Para peserta juga diminta menyerap pengetahuan dari narasumber sehingga naskah cerita rakyat yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik tanpa menghilangkan nilai budaya dan karakter asli masing-masing suku.
Seraplah ilmu dari para narasumber yang telah hadir untuk membersihkan draf cerita rakyat ini agar layak terbit, tanpa menghilangkan jiwa, nuansa filosofis, serta keaslian budaya lokal asalnya, tambah Wabup Joko.
Ia juga berharap karya-karya yang dihasilkan nantinya dapat menjadi bahan bacaan bermutu bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak di Kabupaten Teluk Bintuni.
“Karya-karya ini nantinya dapat menjadi bahan bacaan bermutu yang dapat dinikmati oleh anak-anak kita di jenjang sekolah dasar hingga menengah,” tambahnya.
Wabup Joko Lingara juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber, fasilitator, tim panitia, tokoh adat, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, Wakil Bupati Joko Lingara secara resmi membuka Workshop Kurasi dan Penyuntingan Naskah Sastra Lisan Cerita Rakyat 7 Suku Kabupaten Teluk Bintuni.

Foto bersama wabup Joko Lingara dengan para narasumber dan staf ahli Bupati.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan naskah cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga identitas budaya tujuh suku di Teluk Bintuni melalui dokumentasi literasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara ketua panitia pelaksana, Robert Irianto Parantean, S. Pd., M. Sc.,. Menyampaikan Teluk Bintuni memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa, dan tersebar di wilayah adat 7 suku asli yakni ( Kuri, Wamesa, Sebyar, Sumuri, Irarutu, Sough dan Moskona). Sebagian besar warisan sejarah dan nilai luhur ini masih tersimpan dalam bentuk tradisiw lisan (tuturan adat).
Seiring perkembangan zaman, dokumentaai tertulis menjadi hal yang sangat mendesak. Olehnya itu, Dinas Perpustakaan dan kearsipan Kabupaten Teluk Bintuni mengambil langkah strategis melalui kegiatan ini untuk menghimpun, membedah dan membukukan cerita rakyat tersebut agar menjadi aset literasi daerah yang sah dan abadi bagi generasi masa depan Tanah Sisar Matiti.
Robert menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini untuk melestarikan dan mengarsipkan cerita rakyat serta tradisi lisan 7 Suku asli Teluk Bintuni kedalam bentuk karya literasi cetak dan digital.
Selain itu juga untuk meningkatkan kapasitas para penukia lokal, guru dan pemuda pemudi adat dalan teknik penulisan kreatif dan pengumpulan sejarah lisan.
Lebih lanjut Robert mengatakan bahwa kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dengan menghadirkan narasumber :
Dr. Adolina V. Lefaan, S. Pd. M. Pd.,
Cristina M. Udiani, M.A, M. Hum., Natalia Desi Wulaningrum, S. Pd., Gr
Rasid Woretma, S. Pd., Gr.
Sementara peserta kegiatan sebanyak 14 orang dan berasal dari masyarakat umum Kabupaten Teluk Bintuni yang terdiri dari :
3 peserta menulis cerita dari suku Wamesa3 peserta menulis cerita dari suku Sebyar
2 peserta menulis cerita dari suku Irarutu
2 peserta menulis certia dari suku Moskona
2 peserta menulis cerita dari suku Sough
2 peserta menulis cerita dari suku Sumuri
1 peserta menulis cerita dari suku Kuri.
(Susi)
