Visitasi Akreditasi TK Negeri Sisar Matiti Dimulai, Kepsek Blandina Meminta Perhatian Pemda Dalam Pembangunan Penunjang Pendidikan Lainnya

Aktivitas belajar di ruang kelas Tk Negeri Sisar Matiti Teluk Bintuni. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaaraTeluk.co – Proses visitasi akreditasi di TK Negeri Sisar Matiti Teluk Bintuni resmi dimulai pada Selasa (15/9/2026) Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim asesor dari BAN-PDM Papua Barat sebagai bagian dari penjaminan mutu pendidikan di daerah.
Visitasi akreditasi oleh asesor Badan Akreditasi Nasional PDM ke Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri Sisar Matiti bertujuan untuk mengevaluasi dan menilai mutu layanan pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan. Tujuan dari visitasi ini adalah untuk mengevaluasi secara langsung berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan di TK Sisar Matiti mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan pembelajaran.
Melalui visitasi, asesor dari BAN PDM Provinsi Papua Barat dapat melihat sejauh mana lembaga ini memenuhi standar nasional pendidikan, sekaligus memberikan umpan balik konstruktif untuk peningkatan mutu. Asesor juga bertugas memverifikasi data yang sebelumnya telah dikirimkan oleh sekolah, serta memantau kesesuaian antara dokumen dan praktik nyata di lapangan.
Kepala Sekolah TK Negeri Sisar Matiti, Blandina Ester Arsay, S. Pd. Gr., mengatakan TK Negeri Sisar Matiti masuk dalam daftar akreditasi. Ia kataka bahwa akreditasi ini persiapannya sudah dari bulan Agustus di mulai dengan pengisian Sispena 8 standar akreditasi, dan 8 standar itu pihaknya sudah penuhi semua sehingga mencapai 100%. Sehingga pada hari ini dikunjungi oleh tim visitasi dari Badan Akreditasi Nasional Provinsi Papua Barat.

Kepala Sekolah TK Negeri Sisar Matiti Teluk Bintuni saat di wawancara media ini (Foto/Susi)
Blandina menyebut bahwa tim Asesor berkunjung ke teluk Bintuni bukan hanya di TK Negeri Sisar Matiti saja, namun tim asesor juga menyambangi 5 sekolah yang di akreditasi TK Negeri yang ada di Merdey, TK Priska Pricilla, kemudian kelompok bermain yang berada di Babo.
“Ada 5 sekolah yang tim asesor datangi dan hari kedua tim akreditasinya mereka di TK Negeri Sisar Matiti pada hari ini dari awal anak-anak di antar ke sekolah oleh orang tua di sini mulai dari penjemputan sampai ke kegiatan proses belajar mengajar sampai hingga berakhir bersama-sama dengan kami untuk evaluasi kegiatan,”. Ujar Blandina
Kendati itu, Blandina menjelaskan persyaratan masuk dalam syarat untuk akreditasi harus memiliki izin operasional dari sekolah, kemudian izin pendiri, dan di ikuti dengan daftar peserta didik, kurikulum satuan pendidikan, sarana prasarana yang harus memenuhi syarat dan TK Negeri Sisar Matiti memenuhi persyaratan tersebut.
Walaupun sudah memenuhi syarat untuk masuk visitasi akreditasi namun hal ini belum bisa pastikan, tetapi ia bersyukur karena walaupun hanya baru berjalan satu tahun tetapi sudah masuk dalam daftar akreditasi sehingga ini menjadi satu kebanggaan bagi Sekolah TK Negeri Sisar Matiti yang ia pimpin. Blandina mengatakan walaupun mungkin belum mencapai 100%, karena fasilitas ruang belajar masih kurang. Olehnya itu ia berharap kedepannya ada tambahan satu ruang kelas lagi.
Blandina mengatakan bahwa TK Negeri Sisar Matiti ini mempunyai dua rombel saja, seharusnya memiliki tiga rombel dan satu kantor, namun di karenakan kurangnya rombel sehingga satu rombel di gabung menjadi dua rombel. “Kami punya rombel hanya dua, kami punya kantor di gabung dengan satu rombel, dan satu rombelnya lagi kami gabung dalan dua rombel., ujarnya
Menurut Blandina, walaupun kekurangan rombel namun TK Sisar Matiti berjalan aman dan tidak ada kendala dalam proses belajar mengajar. Kendati itu, Blandina menjelaskan saat ini TK Sisar Matiti beraktivitas belajar dalam dua kelas gabung menjadi satu kelas.
Dalam peraturan pemerintah untuk rasio rombelnya masing-masing minimal 10 sampai 20, lebih banyak 20 atau 15, tetapi di TK Sisar Matiti punya siswa sebanyak 49, dari 49 itu dibagi menjadi tiga kelas yakni TK B1 kelas Cendrawasih di isi 17 anak, kemudian TKB 2 kelas Kasuari 16 anak guru kelas dan gurru pendamping, selanjutnya TKA kelas mangrove ada 16 anak dengan guru kelas serta guru pendamping.
Sehingga Blandina mengatakan ke depan semoga ada penambahan satu unit rombel dan satu unit kantor, karena tahun 2026 saja siswanya sudah banyak sehingga harapannya mungkin tahun depan itu lebih banyak lagi yang tadinya 49 akan naik lebih dari itu. sebelumnya di 2025 siswanya 20 orang tapi tahun ini justru lebih banyak. Ujar Blandina.
“Semoga kedepannya ada penambahan satu rombel dan kantor,”.ujarnya
Blandina selaku Kepala sekola TK Negeri Sisat Matiti mengungkapkan harapan besar terhadap masa depan TK Negeri Sisar Matiti ia berharap sekolah dapat menjadi lembaga pendidikan yang semakin dipercaya masyarakat.Selain itu, ia juga meminta perhatian serius dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, khususnya terkait penambahan rombel dan kantor serta pembangunan fasilitas penunjang pendidikan lainnya. Ujar Kepsek Blandina saat di wawancara media ini
Sementara Tim Asesor BAN – PDM, Syahira, M. Pd., menjelaskan bahwa visitasi ini merupakan bagian dari tahapan akreditasi terhadap sekolah-sekolah sasaran tahun 2026 di Kabupaten Teluk Bintuni.

Asesor BAN-PDM Provinsi Papua Barat, Syahira, M. Pd. saat di wawancara awak media didepan kelas Mangrove. (Foto/Susi)
“Kebetulan hari ini saya selaku asesor mendapatkan tugas untuk melaksanakan visitasi di TK Negeri Sisar Matiti Teluk Bintuni. Sekolah TK ini merupakan salah satu sasaran akreditasi tahun 2026,” ujar Syahira saat diwawancarai media ini.
Syahira menegaskan bahwa penentuan sekolah sasaran akreditasi dilakukan langsung oleh BAN pusat berdasarkan sejumlah indikator dan data pendidikan nasional. Yang menentukan sekolah mana yang diakreditasi adalah dari BAN pusat. Kami hanya menjalankan tugas. Penilaiannya dilihat dari dashboard pendidikan, data TKA, serta Dapodik untuk sekolah di bawah Dinas Pendidikan, ujarnya
Metode pertama adalah observasi langsung proses pembelajaran di kelas. Tim asesor akan menilai aktivitas belajar mengajar mulai dari kegiatan awal, inti hingga penutup pembelajaran.
“Kami melihat apakah pembelajaran sudah aktif dan berpusat pada peserta didik atau belum. Kalau masih kurang, nanti kami berikan catatan dan rekomendasi,” Ujar Syahira
Metode kedua adalah telaah dokumen, baik dokumen yang telah diunggah melalui sistem Sispena maupun dokumen fisik yang tersedia di sekolah. Dokumen yang diperiksa meliputi perangkat pembelajaran, dokumen supervisi, SK kegiatan sekolah, hingga program pencegahan perundungan dan pendidikan inklusif.
Sedangkan metode ketiga adalah wawancara mendalam dengan berbagai pihak, mulai dari guru, komite sekolah, orang tua siswa, yayasan, siswa hingga kepala sekolah.
“Ada desain wawancara khusus untuk guru, orang tua, siswa dan kepala sekolah. Semua dilakukan untuk memastikan kondisi sekolah sesuai dengan data yang dilaporkan,” Ujarnya (Susi)
