Rungkraf Jadi Pintu Masuk Pasar Lebih Luas, Sebanyak 10 Pelaku Ekraf Bintuni di Godok Literasi Digital

Kabid Pengembangan Kapasitas, Martatlita Ullo, saat berikan materi kepala peserta. (Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.co – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat laksanakan Sosialisasi penggunaan aplikasi data ruang kreatif (Rungkraf) bagi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Teluk Bintuni. Kegiatan berlangsung pada Rabu (16/9/2026) di hotel stenkol KM5.
Era digital membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) untuk menembus pasar yang lebih luas. Namun, peluang itu membutuhkan satu hal mendasar yakni data yang kuat dan kemampuan memanfaatkan teknologi.
Kabid Pengembangan Kapasitas, Provinsi Papua Barat, Martarita Ullo, SH., M.SI.,. mengatakan pendataan melalui RUNGKRAF bukan sekadar kegiatan administratif.
Sehingga menurutnya, data tersebut akan menjadi fondasi penting untuk membaca potensi sekaligus menentukan arah pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Teluk Bintuni.Pendataan ini bertujuan untuk mendata pelaku usaha kreatif berdasarkan 17 subsektor. Data ini diharapkan menjadi basis kekuatan kebangkitan ekonomi kreatif di Bintuni ke depan, ujar Martarita.
Ia juga menegaskan bahwa ekonomi kreatif tidak dapat disamakan begitu saja dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perbedaan itu penting. Sebab, kekuatan ekraf tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada gagasan, kreativitas, inovasi, serta kemampuan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi.

Foto bersama usai mengikuti sosialisasi Rungkraf. (Foto/Susi)
Ia menegaskan komitmennya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif.Produk ekraf dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pendapatan baru. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dalam persaingan dan perluasan jejaring pemasaran.
Kegiatan ini merupakan komitmen pemerintah dalam meningkatkan standar pendapatan masyarakat. Produk ekonomi kreatif merupakan salah satu potensi yang menjanjikan, tetapi seiring waktu terkendala pada persaingan jejaring pemasaran, ujar Martarita
Dikatakannya bahwa Pemda Provinsi terus mendorong pelaku ekraf tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Namun juga dituntut mampu membaca perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi maupun pemasaran.Salah satu langkah yang didorong ialah inventarisasi pelaku ekonomi kreatif secara digital melalui aplikasi RUNGKRAF.
Oleh karena itu perlu dilaksanakan sosialisasi dan inventarisasi pelaku ekonomi kreatif secara digital pada aplikasi Ruang Ekonomi Kreatif.
Harapannya dapat memperluas jejaring pemasaran secara digital dan legal, ujarnyaRUNGKRAF diharapkan tidak berhenti sebagai basis data. Sistem tersebut diproyeksikan menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam memetakan potensi pelaku ekraf secara lebih akurat, terintegrasi, dan terukur.
Dengan data yang lebih valid, pemerintah akan memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menyusun program pembinaan, membuka akses pembiayaan, hingga mendorong promosi produk ekraf ke pasar yang lebih luas.Pendataan juga menjadi penting karena karakter pelaku ekraf sangat beragam. Mulai dari kuliner, fesyen, kriya, fotografi, musik hingga subsektor berbasis teknologi digital.
Sebanyak 17 subsektor yang menjadi sasaran pendataan di Bintuni meliputi aplikasi, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film animasi dan video, fotografi, kuliner, kriya, musik, penerbitan, periklanan, pengembang permainan (game), seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.
Di tengah percepatan digitalisasi, langkah tersebut menjadi penting bagi masyarakat Teluk Bintuni khusunya orang asli Papua. Produk lokal tidak lagi harus bergantung pada pasar konvensional.
Dengan penguatan kapasitas digital dan basis data yang baik, produk kreatif dari Teluk Bintuni memiliki peluang diperkenalkan hingga keluar daerah.
Sosialisasi RUNGKRAF sekaligus menjadi sinyal bahwa pembangunan ekonomi kreatif membutuhkan pendekatan baru, bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki identitas, nilai tambah, legalitas, serta mampu menemukan pasarnya.
Bagi 10 pelaku ekraf yang mengikuti kegiatan tersebut, satu hari bukan sekadar belajar menggunakan aplikasi. Lebih jauh, mereka sedang didorong masuk ke ekosistem ekonomi kreatif yang semakin bergantung pada data, teknologi, inovasi, dan jaringan pasar.
Jika dikelola secara konsisten, RUNGKRAF dapat menjadi salah satu pintu penting untuk membawa kreativitas masyarakat Teluk Bintuni dari ruang lokal menuju pasar yang lebih luas. (Susi)
