Jarak Pandang Dua Kilometer, Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Bintuni

Kabut asap menyelimuti wilayah teluk bintuni, dampaknya mengganggu lalu lintas udara di Bandara Bintuni(Foto/Susi)
BINTUNI, SuaraTeluk.co – Dampak kabut asap di Kabupaten Teluk Bintuni mulai mengganggu lalu lintas udara. Meski demikian, aktivitas penerbangan hingga saat ini masih dapat berjalan dan belum mengalami gangguan yang berarti.
Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Keamanan dan Keselamatan Penerbangan pada Kantor Bandara Bintuni, Yance Daud Imanuel Ayomi saat di wawancara awak media pada Selasa (22/9/2026). Yance mengatakan kondisi kabut asap menjadi salah satu faktor yang harus mendapat perhatian serius dikarenakan hal ini berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

kepala seksi keamanan dan keselamatan penerbangan, Yance Daud Imanuel Ayomi saat di wawancara media ini (Foto/Susi)
Yance menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir pihak bandara menerima informasi dari pihak penerbangan terkait kondisi cuaca di wilayah Bintuni yang cukup berpengaruh terhadap jarak pandang, terutama ketika pesawat hendak melakukan proses pendaratan maupun lepas landas.
Dengan kondisi jarak pandang pada saat tertentu bahkan hanya berada di kisaran dua kilometer dari titik landasan. Kondisi tersebut dinilai cukup mengganggu pilot dalam melakukan proses pendekatan menuju landasan pacu.
“Jikalau jarak pandang seorang pilot saat ini sekitar dua kilometer dari titik landasan, itu sudah cukup mengganggu. Kondisi ideal biasanya bisa mencapai sekitar 10 kilometer jika pandangan pilot dua kilometer maka pilot mengundurkan waktu dua menit untuk melakukan pendaratan,” Ujar Yance
Yance mengatakan, kabut asap yang cukup tebal membuat pilot harus meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan pendekatan untuk mendarat.
Dalam kondisi tertentu, pilot dapat melakukan manuver terlebih dahulu untuk mencari celah pandang yang lebih aman sebelum melanjutkan proses pendaratan.Hal tersebut kemudian dapat menyebabkan waktu pendaratan sedikit mengalami keterlambatan dibandingkan jadwal yang telah ditentukan.

Kantor unit penyelenggara Bandara udara Bintuni. (Foto/Susi)
Namun demikian, Yance memastikan hingga saat ini aktivitas penerbangan dari dan menuju Bandara Bintuni masih berjalan normal. Kabut asap belum sampai menyebabkan penghentian atau pembatalan rute penerbangan.Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan penerbangan.
Apabila kondisi cuaca semakin memburuk dan jarak pandang semakin menurun, maka koordinasi antarpihak akan terus dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat.Dalam menghadapi kondisi tersebut, pihak Bandara Bintuni tetap menjalankan prosedur operasional standar (SOP) yang berlaku.
Petugas tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan kesiapan penerbangan, termasuk memastikan seluruh aspek keselamatan terpenuhi sebelum pesawat melakukan take off maupun landing.
Yance juga berharap adanya dukungan dan kerja sama dari Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dalam menangani sumber asap, khususnya apabila kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Dikatakan Yance bahwa penanganan terhadap sumber asap penting dilakukan karena kondisi udara di wilayah Bintuni dapat memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan, terutama apabila kabut asap semakin tebal dan menyebabkan jarak pandang menurun.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Bandara Bintuni saat ini melayani sejumlah rute penerbangan yang menghubungkan Bintuni dengan beberapa daerah di Papua Barat dan sekitarnya. Diantaranya rute Bintuni–Manokwari, Bintuni–Sorong, Sorong–Bintuni, Bintuni–Kambuaya hingga Bintuni–Fakfak, Manokwari- Bintuni.
Selain pesawat Susi Air , saat ini terdapat penambahan satu maskapai, yakni Smart Air, yang turut melayani penerbangan di wilayah tersebut.Yance memastikan, hingga saat ini kondisi kabut asap belum mempengaruhi rutinitas penerbangan secara keseluruhan. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan terutama ketika pesawat akan melakukan take off dan landing.
Dengan kondisi tersebut, pihak Bandara Bintuni terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan jarak pandang. Koordinasi dengan pihak maskapai serta instansi terkait juga menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh aktivitas penerbangan tetap berlangsung dengan mengutamakan faktor keselamatan. (Susi)
